Kesembuhan Hanya Daripada Allah

Archive for the ‘Artikel’ Category

Sebelas Tanda Mencintai Baginda Rasulullah SAW

Seseorang yang mengakui bahwa dia mencintai seseorang akan lebih memilih yang dicintai dibanding semua orang, ia juga akan lebih memilih apa yang disukai oleh yang dicintainya, jika tidak demikian maka dia tidak akan bertindak sesuai yang dicintanya dan artinya cintanya juga tidak akan tulus.

Tanda-tanda berikut ini akan menjadi jelas pada mereka yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW:

Pertama: Tanda pertama cinta kepada Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah bahwa dia akan mengikuti contoh-contohnya, menerapkan cara Nabi saw dalam kata-kata, perbuatan, ketaatan kepada perintah-Nya, menghindari apa pun yang dilarang dan mengadopsi sikap Nabi saw pada saat diberi kemudahan, sukacita, kesulitan, dan penderitaan. Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintaimu.” [Al-Imran: 31]

Kedua: Tanda kedua adalah bahwa dia akan menyingkirkan keinginan sendiri dan nafsunya dengan mengikuti hukum yang didirikan dan didorong oleh Nabi SallAllah alaihi wa Sallam. Allah berfirman, “Kepada orang-orang sebelum mereka yang telahmembuat tempat tinggal mereka di tempat tinggal (Kota Madinah), dan karena keimanannya mereka mengasihi orang yang telah beremigrasi ketempat mereka, mereka tidak menemukan irihati dan dengki dalam dada mereka untuk apa yang telah diberikan dan lebih memilih mereka atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri memiliki kebutuhan. ” [Al Hasyr: 9]

Ketiga: Tanda ketiga adalah bahwa kemarahan seseorang karena orang lain hanyademi mencari keridhaan Allah. Anas, putra Malik diberitahu oleh Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, “Anakku, jika Anda dapat menahan diri dari dendam di hati Anda dari pagi hingga sore, kemudian melakukannya.” Dia kemudian menambahkan, “Anakku, yang merupakan bagian dari jalan kenabian bahwa barang siapa yang menghidupkan kembali cara saya dan mengasihi Aku, dan barangsiapa mencintaiku akan bersama dengan saya di surga.” [Sunan Tirmidh, Kitab al-Ilm, Vol 4, Halaman 151]
Jika seseorang memiliki kualitas baik ini, maka dia memiliki cinta yang sempurna untuk Allah dan Rasul-Nya. Jika dia menjadi sedikit kurang dalam kualitas ini maka cintanya tidak sempurna. Bukti ini ditemukan dalam ungkapan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, ketika seseorang menghadapi hukuman karena mabuk. Sebagaimanaorang itu akan menerima hukuman seorang pria mengutuk sang pelaku, dan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, “Jangan mengutuk dia. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” [Sahih Bukhari, Kitab al-Hudud, Vol 3, Halaman 133]

Keempat: Tanda keempat adalah bahwa seseorang yang mencintai selalu menyebutkan nama Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, dalam kelimpahan – siapa mencintai sesuatu, terus-menerus pada lidahnya bersalawat kepada Nabi saw. [Al Shifa bi Ta’reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 32]

Kelima: Tanda kelima adalah kerinduan untuk bertemu Nabi SallAllahu Alaihi wa Sallam. Setiap kekasih rindu untuk bersama mereka yang tercinta. Ketika suku Asy’ariyah mendekati Madinah, mereka mendengar nyanyian, “Besok, kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad saw dan para sahabatnya!” [Dalail an-Nabuwwah lil Baihaqi, Jilid 5, Halaman 351]

Keenam: Tanda keenam adalah bahwa setiap mengingat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, seseorang yang mencintainya akan ditemukan memuji dan menghormati setiap kali namanya disebutkan dan kemudian menampilkan kerendahan hatinya dan lebih merendahkan dirinya sendiri ketika ia mendengar namanya. Kami diberitahu oleh Isaac at-Tujibi bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, setiap kali para sahabat mendengar namanya disebutkan mereka menjadi lebih rendah hati, kulit mereka gemetar dan mereka menangis karena cinta. Adapun para pengikut lain dari Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, beberapa sahabat mengalami rasa cinta yang luar biasa sehingga meneriakkan salam kerinduan untuknya, sedangkan yang lain melakukannya karena rasa hormat dan penghargaan pada Rasulullah sawi. [Al Shifa bi Ta’reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 33]

Ketujuh: Tanda ketujuh adalah ungkapan kasih yang diungkapkan untuk NabiMuhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, dan para ahlul bayt (keturunan Nabi saw) dan sahabatnya – para Muhajirin dan bani Ansar sama besarnya demi kehormatan Nabi saw. Seseorang dengan tanda ini akan ditemukan memusuhi orang-orang yang membenci mereka.
Nabi saw berkata kepada umatnya sambil menunjuk cucunya Sayidina Al Hasan dan Al Husain, semoga Allah senang dengan mereka, Nabi Alaihi SallAllaho alaihi wa Sallam, berkata, “Ya Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah mereka.”
Sahih Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 23
Sahih Muslim, Kitab al Fadhail, Vol 4, Halaman 1883
Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 327
Al-Hasan mengatakan bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, juga mengatakan, “Ya Allah, aku mencintainya, dan cinta orang yang mencintainya.” Dua cucunya, Nabi saw juga mengatakan, “Barangsiapa mencintai mereka, maka mencintai aku.” Kemudian ia berkata. Barang siapa mencintaiku, maka dia mencintai Allah. Barang siapa yang membenci mereka membenci saya dan barangsiapa membenci saya artinya membenci Allah. ”
Muqaddam Sunan Ibn Maja, Vol 1, Page 51
Majma ‘az-Zawaid, Vol 9, Halaman 180
Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, “Jangan membuat teman saya sebagai sasaran setelah kepergian ku! Barangsiapa mengasihi mereka, maka mengasihi mereka itu karena mereka mencintaiku, dan barang siapa membenci mereka, adalah juga kebencian mereka terhadap aku, Barangsiapa merugikan mereka, maka mereka merugikan aku. Barangsiapa yang melukai sahabatku dan keluargaku, seolah-olah itu adalah menyakitiku (Nabi saw) dan artinya juga Allah. Barang siapa menyaikiti Allah, maka mereka akan dibuang.
Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 358
Musnad Ahmad, Vol 5, Halaman 54
Keluarga Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah berasal dari Sayidah Fathimah, semoga Allah senang dengan dia, “Dia adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membenci dia, maka mereka membenci saya.”
Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 24
Sahih Muslim, Kitab Fadhail as-Sahaba, Vol 4, Halaman 1903
Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, mengatakan kepada Sayidina Aisyah untuk mencintai Osama, putra Zaid karena dia mencintainya. [Sunan Tirmidzi, Kitab al-Manaqib, Vol 5, Halaman 342]
Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berbicara kepada Ansar, berkata, “Tanda iman adalah mencintai Anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah kebencian kepada mereka.”
Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Page 27
Sahih al Bukhari, Kitab al Iman, Vol 1, Page 9
Sahih Muslim, Kitab al Iman, Vol, Halaman 85
Anak Omar mengatakan kepada kita bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, “Barang siapa mencintai orang-orang Arab dan mengasihi mereka karena dia mencintaiku, dan barangsiapa membenci mereka, itu adalah karena kebencian mereka terhadap aku..” [Al Shifa bi Ta’reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]
Faktanya adalah ketika seseorang mencintai yang lain, dia mencintai segala sesuatu yang dicintai orang itu, dan ini memang terjadi dengan para sahabat. Ketika Anas melihat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, makan sepotong labu, ia berkata, “Dari hari itu maka akupun mencintai labu.” [Al Shifa bi Ta’reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]
Al-Hasan, cucu Nabi, semoga kedamaian Allah atas mereka, pergi dengan Jafar Salma dan memintanya untuk menyiapkan beberapa makanan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, yang biasa digunakan untuk makan. [Shamail Tirmidzi, Halaman 155]
Omar pernah melihat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, mengenakan sepasang sandalberwarna kuning, sehingga dia juga mengenakan sepasang sandal dengan warna yang sama.
Sahih al Bukhari, Kitab al-libas, Vol 7, Halaman 132
Sahih Muslim, Kitab al-Hajj, Vol 2, Halaman 844

Kedelapan: Tanda kedelapan, kebencian terhadap siapa saja yang membenci Allah dan Rasul-Nya. yaitu dengan membenci orang-orang yang menunjukkan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman memiliki tanda ini menghindari semua yang menentang cara kenabian, dan bertentangan dengan orang-orang yang memperkenalkan inovasi dalam cara kenabian (yang bertentangan dengan semangat Islam) dan menemukan hukum yang memberatkan. Allah berkata, “Anda akan menemukan tidak ada umat yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir yang mencintai siapapun yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” [Al Mujadilah: 22]

Kesembilan: Tanda kesembilan ditemukan pada mereka yang mencintai Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi saw, dimana mereka dibimbing. Ketika ditanya tentang Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, Sayidah Aisyah, ra dia, berkata, “karakter Nabi adalah Al-Qur’an.” Bagian dari cinta Al-Qur’an adalah mendengarkan bacaan, bertindak sesuai dengan itu, pemahaman itu, menjaga dalam batas-batas dan cinta cara Nabi Muhammad. [Al Shifa bi Ta’reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]
Sahal, putra Abdullah berbicara tentang tanda ini mengatakan, “Tanda mencintai Allah adalah cinta Al-Qur’an Tanda mencintai Al-Qur’an adalah cinta Nabi.Tanda mencintai Nabi SallAllahu alaihi wa sallam, adalah cinta cara kenabiannya. Tanda mencintai cara kenabian adalah cinta akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia ini. Tanda kebencian bagi dunia ini adalah bahwa Anda tidak mengumpulkan semua kecuali untuk sedikit saja sesuai ketentuan dan apa yang Anda butuhkan untuk tiba dengan selamat di akhirat. ” [Al Shifa bi Ta’reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]
Anak Mas’ud mengatakan, “Tidak ada yang perlu bertanya pada diri sendiri tentang apa pun, selain Al-Qur’an, jika ia mencintai Al Qur’an maka dia mencintai Allah dan Rasul-Nya” pujian dan damai besertanya. [Baihaqi fil Aadaab, Hal 522]

Kesepuluh: Tanda kesepuluh cinta untuk Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah untuk mengasihani umatnya dengan menasihati mereka dengan baik, berjuang untuk kemajuanmereka dan menghapus segala sesuatu yang berbahaya dari jalan mereka dan dalam cara yang sama bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata “kasih sayanglah kepada orang yang beriman.” [Al-Taubah: 128]

Kesebelas: Tanda kesebelas kasih yang sempurna ditemukan dalam membatasi siapa dirinya melalui penyangkalan diri, lebih memilih kemiskinan dari kenikmatan atraksi dunia. Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata Abu Sa’id Al Khudri, “Kemiskinan akan datang kepada Anda yang mencintai saya, mengalir lebih cepat daripada banjir dari puncak gunung ke dasarnya.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]
Seorang pria datang kepada Nabi Alaihi wa Aalihi SallAllaho wa Sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mencintaimu.” Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, memperingatkan, “Hati-hati dari apa yang Anda katakan.” Pria itu mengulangi cintanya sampai tiga kali, dimana Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Jikalau kamu mengasihi ku maka persiapkan diri mu dengan cepat untuk kemiskinan.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]
Ya ALLAH SWT! Kami memohon kepadaMU untuk mengisi hati kita dengan Kasih yang benar dan besar dari sifat Karim yang terkasih, Habibullah. Kita tetap hidup pada Sunnah-nya dan memberkati kita dengan kematian pada Iman di Kota terkasih Nabi Terkasih saw dan kuburkan kami dengan Ahl al-Baqi ‘asy-Syarif … Aamin!

Sumber: alkisah.web.id

Aside

Tentatif Program : LANTUNAN MAHABBAH RASULILLAH

MAJLIS LANTUNAN MAHABBAH RASULILLAH

1.       APA ITU MAJLIS LANTUNAN MAHABBAH RASULILLAH ?
  • Satu majlis bagi MENGAMBARKAN DAN MENZAHIRKAN KECINTAAN KITA KEPADA RASULULLAH    MUHAMMAD s.a.w. Insan yang membawa rahmat keamanan, keharmonian keadilan serta kesejahteraan untuk kita dan alam seluruhnya.
  • Majlis ini dihiasi dengan SELAWAT, ZIKIR, ALUNAN QASIDAH kecintaan rasulullah disamping MENCEDUK LAUTAN ILMU melaluiAL QURAN dan HADIS rasulullah lalu mengambil pengajaran yang sewajarnya kita hayati sebagai umat Rasulullah.s.a.w.
  • Majlis ini telah diadakan untuk kali keempatnya dengan lebih 10 000 pencinta rasul telah hadir merasai kesyahduan keindahan kerinduan kecintaan untuk Rasulullah s.a.w.
  • Majlis yang namanya diberikan oleh ulamak tersohor Syeikh Nuruddin al banjari
2.     BILA DAN DIMANA MAJLIS INI ?
  • Tarikh : 30 DAN 31 DISEMBER 2011,
  • Hari : JUMAAT DAN SABTU
  • Tempat : STADIUM SULTAN ABD HALIM SUKA MENANTI ALOR SETAR,
  • Majlis bermula jam : 8.30 PAGI HINGGA 12.00 MALAM.
3.     SIAPA PENGANJUR MAJLIS INI ?
  • Majlis ini dianjurkan oleh PARA PENCINTA RASULULLAH S.A.W .
  • YAYASAN PAKSI bertindak sebagai pengelolanya.
  • Ianya mendapat kerjasama dari Pejabat YAB Menteri Besar Negeri Kedah, Jabatan Hal Ehwal Sekolah Agama rakyat (HESA) , Majlis Ketua Kampong (MKK) Masjid-masjid seluruh Kedah, Galeri Ilmu Sdn Bhd. ( majallah Q & A ), NGO Islam  ( pertubuhan bukan kerajaan ) – Ikatan Mujahid Ummah ( IMAM), ABIM, JIM, WADAH, TERAS , Sekretariat Ummah Berselawat ,Pusat Pengajian Islam , Pondok, Tahfiz  dan lain-lain
4.     SIAPA YANG AKAN BERSAMA DALAM MAJLIS INDAH INI ?
  • Ulamak tersohor dan pemikir islam  serta pencinta rasulullah antaranya
  • Sahibus Samahah Dato’ Baderudin Haji Ahmad – Mufti Kerajaan Negeri Kedah
  • Tuan Guru Dato’ Dr. Harun Din Al hafizh – Ulamak Tersohor
  • Syeikh Ahmad Fahmi Zam-zam -Mudir, Pasentren Yayasan Islam Nurul Hidayah (Yasin) di Banjar Baru Indonesia
  • Syeikh Mohd. Zainal Asri bin Haji Ramli – Mudir Maahad Darul Hadis
  • Ustaz Ahmad fawaz bin Dato Fadhil  – Anak Dato Fadhil Noor
  • Ustaz Nik Abduh bin Dato Nik Abd. Aziz – Anak Dato Tuan Guru Nik Abd Aziz bin Nik Mat
  • Ustaz Mohd. Khalil bin Dato Seri Abd. Hadi – Anak Dato Seri Tuan Guru Haji Abd Hadi Awang
  • Ustaz Zul Ramli Bin Mohamed Razali – editor Eksekutif majalah Q & A
  • Prof. Madya Dr. Asmadi Mohamed Naim- Dekan fakulti Perniagaan Islam UUM
  • YM Hajah Raja Mazian Bt Raja Mohamed- mantan pengacara Al- Hidayah Tv3
  • Nora –  Wan Norafizah binti Ariffin – selebriti dan penyanyi
5.      APA YANG AKAN ANDA PEROLEHI SEPANJANG MAJLIS INI
  • Sepanjang program kita akan merasai indahnya SELAWAT DAN QASIDAH memuji Rasulullah bersama para ulamak dan pelajar Mahaad Darul Hadis, Maahad Tahfzi Imam Nawawi (Matin)serta kumpulan qasidah yang lain. Selawat dan qasidah dialunkan disetiap permulaan majlis  dipertegahan dan diakhir nya. ( Ya Allah hadirkan kami dalam majlis ini)
  • TG. Dato’ Dr. Harun Din akan mengupas KERINDUAN BERTEMU RASULULLAH dan amalan yang dilakukan oleh mereka yang telah dapat bertemu Rasulullah dalam mimpi. Kesyahduan ketika bertemu Rasulullah s.a.w (moga kita memperolehinya)
  • SS Dato’ Mufti akan menyentuh CIRI-CIRI DAN WATAK  INSAN YANG AKAN BERSAMA RASULULLAH di akhirat nanti (moga kita antaranya)
  • Syeikh Ahmad Fahmi dan Syeikh Zainal Asri akan membawa kita merasai INDAHNYA DALAM MAJLIS MEMUJI DAN MENGAGUNGKAN RASULILLAH. ( moga Allah memilih kita dalam ribuan yang hadir)
  • Anak-anak 3 Ulamak iaitu  Ust. Fauwaz , Ustaz Nik Abduh dan ust Mohd. Khalil akan membawa kita memahami ciri-ciri danPERANAN ULAMAK SEBAGAI PEWARIS NABI DAN PERANAN KITA SEBAGAI PEMBANTU dan penyokong para ulamak. ( moga allah pilih kita hidup bersama para ulamak)
  • Ust. Zul Ramli , YM Raja Mazian dan Nora akan mengembalikan kita melihat betapa CINTA DAN KASIHNYA RASULULLAH TERHADAP WANITA lalu memuliakan wanita sebagai anak, isteri dan ibu. Kita akan dibawa merasai betapa MANISNYA HIDUP DALAM SUNNAH RASULULLAH berbanding sebaliknya. (moga kita penghidup sunnah Rasulullah)
  • Anda akan dapat MENYELUSURI DAN MENGHAYATI KEHIDUPAN RASULULLAH melalui teknik penceritaan yang dibantu dengan alunan qasidah, selawat, nasyid, sajak, pentomen, monolog dalam PERSEMBAHAN  QASIDAH SENTUHAN QALBU.  Ianya bertambah menusuk qalbu dengan paluan kompang dan bunyian serta pencahayaan.
  • Ust Zul Ramli dan Prof Madya Dr. Hasmadi akan mejelaskan peri pentingnya ILMU dalam mendekatkan kita kepada RASULULLAH.
  • PELANCARAN MAJALLAH Q & A sebagai tanda komitmen kita bersama untuk mendapat ilmu
  • MAJLIS TAHLIL  dipimpin oleh Tuan Guru Haji Mohd Rejab bin Mohd Khair, sebagai tanda ingatan kita kepada insan yang kita kasihi ( moga doa dan pahala tahlil kita mendatangkan kebaikan kepada keluarga terutama ibu ayah kita)
  • Semestinya kita akan dapat membeli BARANGAN KELUARAN MUSLIM, halal lagi baik pastinya di gerai yang sediakan.  (Moga kita diberi ilmu , makanan dan pakaian serta lainnya mengikut sunnah )
6.      SIAPA YANG BOLEH MENYERTAI DAN MENGHADIRI MAJLIS INI ?
  • MAJLIS INI BOLEH DISERTAI dan dihadiri OLEH SEMUA INSAN…
  • anda suami/isteri anda, anak-anak, ibu ayah adik abang kakak … jiran, rakan sepejabat lelaki wanita, tua muda, kecil besar, melayu, cina india … muslim dan non muslim semua golongan … pencinta rasul…
7.     BAGAIMANA UNTUK ANDA MENYERTAINYA ?
  • TIADA BAYARAN DIKENAKAN kepada anda yang cintakan rasulullah
  • Hanya pinta kami agar anda membiasakan diri anda BERSELAWAT SEBANYAK MUNGKIN mulai hari ini sehingga kita masuk ke majlis yang adakan pada 30.12.2011 supaya jiwa dan perasaan anda begitu cinta kepada rasulullah.
  • Serta pada MALAM KEMUNCAKNYA ANDA DIGALAKKAN BERPAKAIAN PUTIH bagi mewujudkan suasana syahdu berselawat dan berqasidah memuji rasulullah.
  • ( bayangkan anda dalam ribuan yang berpakaian putih bersih …. sama serupa …)
8.      ANDA INGIN MEMBANTU MENJAYAKAN MAJLIS INI ?

PASTINYA anda amat ingin memastikan majlis ini berjalan dengan lancar dan berjaya. Oleh itu anda perlu

  • LETAK DAN TANAM AZAM UNTUK HADIR ke majlis lantunan mahabbah pada tarikh 30 dan 31 disember 2011 di Stadium Sultan Abd. Halim Suka Menanti.
  • HADIR BERSAMA ANAK DAN KELUARGA SERTA RAKAN JUGA JIRAN agar mereka juga dapat merasai serta mendapat berkat dan pahalanya.
  • Bersama MENJAYAKAN MAJLIS TAHLIL . Isikan borang dan hantarkan kepada MAAHAD DARUL HADIS atau KELAS PAKSIsetiap jumaat di menara zakat atau kelas di seri mentaloon pada hari sabtu atau berhubung 0195987842
  • SEBARKAN MAKLUMAN INI kepada orang yang anda kenali atau tidak melalui sms, facebook, email blog salinan handbill poster dan sebagainya. pastinya ada pahala untuk anda juga.
  • Menghulurkan SUMBANGAN WANG RINGGIT seikhlas dalam tabung lantunan atau terus kepada akaun YAYASAN PAKSI . atau menjadi penaja.
  • HADIR AWAL DAN IKUT PERATURAN serta arahan pengelola.

KETERANGAN LANJUT SILA HUBUNGI ;

CIKGU SUKARNO ABD.HAMID 0195987842 atau layari :  lantunan-mahabbah.blogspot.com

Sejarah Pendidikan Tuan Guru Dato’ Haron Din

TUAN GURU DATO’ DR. HARON DIN

Pendidikan

• Madrasah al-Islahiyah al-Wataniah, Bohor Mali

• Madrasah al-‘Alawiyah al-Diniah dan al-Kuliah al-Islamiah, Kelang Selangor

• Sijil Tertinggi Kolej – Kolej Islam Malaya (1962-1965)

• Ijazah Sarjana (M.A.) Syariah – Universiti Al-Azhar (1966-1968)

• Diploma Pendidikan – ‘Ain Shams, Universiti Cairo (1966-1968)

• PhD Syariah – Universiti Darul Ulum, Kaherah (1972-1974)

Pengenalan

Tuan Guru Dato’ Dr. Haron bin Din dilahirkan pada hari Ahad, 18 Ogos 1940 bersamaan 14 Rejab 1359 (Tarikh Hijriyah ini mengikut kiraan komputer) di Bohor Mali, Kangar, Perlis.  Beliau merupakan anak ke tiga daripada 10 orang adik beradik yang terdiri daripada seorang abang dan kakak serta seorang adik lelaki juga enam adik perempuan. Dua orang saudara lelaki beliau juga merupakan tokoh agama yang disegani di Malaysia iaitu abang beliau Ustaz Ishak bin Din dan adik beliau Ustaz Abu Hassan bin Din.Beliau dibesarkan dalam suasana keluarga yang berpegang teguh dengan ajaran agama Islam. Oleh yang demikian, kehidupan beliau telah terdidik sejak kecil lagi dalam keadaan baik dan ilmiah. Ibu bapa beliau berkhidmat sebagai guru al-Quran kepada masyarakat setempat pada ketika itu. Ia suatu peluang baik kepada beliau serta adik beradiknya yang lain untuk lebih mendalami bidang al-Quran.

Oleh kerana kealiman dan keilmuan ayahanda Tuan Guru Dato’ Dr. Haron bin Din, dia dikenali sebagai Lebai Din. Semasa zaman remaja Lebai Din  telah merantau mencari ilmu dari Phatani sehingga sampai ke Perlis dan menetap di Kampong Bohor Mali kerana di situ adalah tempat pengajian ilmu. Beliau telah menetap dan berumahtangga di situ. Lebai Din dikenali umum sebagai seorang perawat yang mengamalkan rawatan pengubatan secara Islam. Selain daripada itu, Lebai Din juga seorang guru silat yang mengamalkan Silat Gayung Petani.

Namun, ilmu persilatan ini tidak diperturunkan kepada anak-anaknya. Akan tetapi, ilmu pengubatan Islam ini tidak terhenti setakatnya sahaja. Ilmu ini telah diperturunkan secara pengijazahan dengan menyerahkan buku catatan pengubatannya kepada Ustaz Haron Din. Memandang minat dan kecenderungan terhadap ilmu pengubatan Islam, Ustaz Haron Din sahaja terpilih untuk mewarisi ilmu pengubatan Islam daripada ayahandanya.

Kehidupan berumahtangga

Tuan Guru Dato’ Dr. Haron bin Din telah mengakhiri zaman bujangnya ketika berusia 25 tahun  dengan seorang wanita pilihannya Datin Khadijah binti Haji Salleh.  Hasil perkongsian hidup tersebut, mereka telah dikurniakan lima orang cahayamata, iaitu dua lelaki dan tiga perempuan . Anak-anak  mereka  ialah Huda, Hamdi, Salwa, Najmi dan Hana .

Pendidikan Awal

Tuan Guru Dato’ dan adik beradiknya yang lain diwajibkan mempelajari ilmu agama terutama pengajian al-Quran. Oleh kerana itu, beliau menerima pendidikan awal daripada ayah dan ibunya sendiri. Sikap keprihatinan ayah beliau dalam memberi didikan agama kepada anak-anak, sehinggakan tidak membenarkan anak-anaknya mendapat pendidikan selain daripada pendidikan agama di pondok. Tidak seorang pun anak-anaknya yang mengikuti persekolahan secara formal pada  ketika itu. Setelah menamatkan pengajian di peringkat pondok, rumah pula menjadi tempat bagi beliau mendalami bidang al-Quran dipimpin oleh ayahnya. Beliau bukan sahaja diajar kaedah bacaan al-Quran dengan betul, malah dilatih dan diberi kepercayaan sebagai pembantu ayahandanya mengajar al-Quran kepada anak-anak qaryah. Beliau juga telah dilatih menjadi imam solat dan tenaga pengajar fardu ain kepada umum.

Ayahanda beliau seorang yang sangat tegas dalam mendidik anak-anak. Tidak pernah lekang di tangannya rotan untuk menghukum anak-anaknya apabila melakukan kesalahan. Manakala bondanya pula, seorang ibu yang memiliki sifat keibuan sempurna. Dengan perwatakan baik sebagai seorang ibu, dengan sifat lemah lembutnya, dia berjaya mendidik dan membentuk anak-anak secara berhikmah dan berbeza dengan cara suaminya. Dengan kombinasi kedua-dua bentuk didikan ini, maka terbentuklah keperibadian baik kepada  tokoh ini. Ia menjadikan Tuan Guru Dato’ seorang yang amat tegas pendiriannya dalam membela, mempertahan dan memperjuangkan agama di tanahair. Tambahan, sifat lemah lembut ibunya juga telah diwarisi oleh beliau. Beliau amat berlemah lembut dalam tutur katanya serta mesra dengan mad’unya tanpa mengira batasan usia, pangkat dan kedudukan.

Pendidikan Sekolah Rendah (Ibtidaii)

Setelah menjangkau usia Tujuh tahun, ayahandanya telah menghantar beliau belajar di sebuah sekolah aliran pondok di Madrasah al-Islahiah al-Wataniah Bohor Mali yang terletak hanya lebih kurang 100 meter dari rumahnya. Walaupun jarak antara pondok dan rumahnya amat dekat, namun beliau mengambil keputusan menetap di pondok supaya dapat memberi tumpuan sepenuhnya kepada pengajian dan dalam pada itu dapat mendidik diri hidup secara berdikari.

Suatu ketika, Tuan Guru Dato’ telah dihadiahkan seutas jam tangan berjenama Holok oleh bapa saudara kepada Almarhum Haji Zakaria. Hadiah tersebut diberikan kepada beliau sebagai satu anugerah kerana telah mendapat tempat pertama dalam kelas dua. Pemberian yang amat bernilai itu membuatkan beliau sangat gembira dan bersyukur kerana memilikinya.

Kecenderungan Tuan Guru Dato’ terhadap bahasa Arab mula berputik semenjak hari pertama beliau menjejakkan kaki ke sekolah tersebut. Pendekatan pengajian bahasa Arab secara berinovasi dan menyoronokkan daripada guru beliau, ustaz Shafie Omar, sedikit sebanyak telah memberi rangsangan kepada beliau untuk terus mendalami matapelajaran bahasa Arab ini.

Berbekalkan keazaman dan kesungguhan serta minat yang mendalam dalam diri, menjadikan bahasa Arab sebagai alat untuk beliau menimba ilmu-ilmu wahyu dengan lebih jauh. Berteraskan kemahiran bahasa Arab inilah, beliau dapat menggali khazanah ilmu dari sumber-sumber muktabar dalam bahasa Arab dalam pelbagai bidang ilmu termasuk aqidah, fekah, muamalat Islam, siasah Islam, perubatan Islam, kekeluargaan dan sebagainya.

Satu pengajaran yang dapat kita ambil di sini mengenai kepentingan pendidikan bahasa Arab kepada generasi muda supaya mereka dapat menyelami dan mendalami pusaka khazanah ilmu peninggalan ulama-ulama Islam terbilang. Amatlah wajar dielakkan tanggapan sesetengah orang yang beranggapan bahawa bahasa Arab ini bahasa yang sukar dipelajari dan difahami sehinggakan wujudnya golongan yang anti atau fobia dengan bahasa al-Quran juga bahasa syurga. Sesungguhnya Allah telah permudahkan bagi kita untuk mempelajari bahasa al-Quran.

Pendidikan Sekolah Menengah Rendah (I’dadiah)

Setelah beliau menamatkan pengajiannya di sekolah pondok Madrasah Islahiyah al-Diniah beliau telah menyambung pengajian ke Madrasah al-‘Alawiyah al-Diniah. Perpindahan beliau ke sekolah menengah memberi maksud penerusan perjuangan beliau yang lebih mencabar dalam mendalami ilmu pengetahuan agama. Tambahan pula, pada ketika itu jarak antara sekolah dan rumah beliau adalah lebih kurang 12 batu (20km). Kayuhan basikal sejauh 40km sehari, sedikitpun tidak mematahkan semangat beliau dalam menuntut ilmu Allah S.W.T.

Bermula dari sinilah, terserlahnya kecemerlangan beliau dalam bidang akademik dan sifat kepimpinan. Di mana beliau telah mendapat tempat pertama (imtiaz) sepanjang tahun pengajian di situ. Sifat kepimpinan mula menyinar di mana beliau telah lantik menjadi ketua pelajar di sekolah. Keperibadian beliau yang cemerlang telah diakui oleh kedua-dua gurunya. Semasa belajar di sini, beliau dikenali sebagai seorang murid yang baik, cerdik, tekun dan fokus dalam pelajaran sehingga sentiasa berada dalam senarai pelajar  terbaik ketika itu.

Tuan Guru Dato’ hanya sempat menghabiskan pengajian pada tahap tiga thanawi sahaja. Kemudian beliau terpaksa meninggalkan sekolah tersebut kerana terlibat dalam satu gerakan pelajar untuk membantah campur tangan pihak luar yang cuba campur tangan pihak pengurusan dan pentadbiran sekolah. Ia berikutan kerana, pada ketika itu ada pihak tertentu yang berhasrat menggantikan pentadbir baru yang bukan dari aliran atau lulusan agama. Akibat peristiwa ini, beliau telah di tahan lokap polis selama dua malam dan akhirnya beliau beserta seramai 60 orang rakannya telah dibuang dari sekolah sehingga mengakibatkan sekolah tersebut ditutup terus selama setahun.

Peristiwa ini membuktikan kepada kita semangat juang  dan ketokohannya sebagai pemimpin yang berkarisma dan bermagnetisma yang menjadikan pelajar-pelajar di bawah pimpinannya sanggup mendengar arahan dan sebulat suara menyokong dan mendokong hak yang diperjuangannya.

Di sini juga kita dapat lihat ketokohannya sebagai seorang yang mempunyai prinsip yang tinggi dalam kamus perjuangannya. Di ketika itu beliau sanggup mempertahankan prinsip dan kebenaran sehingga sanggup membayar satu harga yang cukup tinggi dalam hidupnya, iaitu penyingkiran daripada persekolahan.

Semasa penggantungan itu, beliau bersama seorang rakan karibnya Almarhum Ustaz Dahlan Mat Zin telah memulakan kembara berbasikal dari Arau ke Kuala Lumpur. Satu jarak yang agak jauh, dengan keadan fizikal jalan pada ketika itu.

Ini dapat membuktikan kepada kita kecekalan dan ketabahan beliau untuk mengharungi cabaran untuk melihat dunia luar. Apa yang dapat kita lihat sekarang, apabila beliau telah menjadi seorang ulama yang telah mengembara ke seluruh pelusuk dunia untuk menyampaikan dakwah dan kerja-kerja kebajikan. Sudah tentulah hari ini sudah tidak dengan basikal tua lagi tapi dengan kenderaan yang moden.

Pendidikan Sekolah Menengah Tinggi

Dalam tempoh penggantungan beliau itu, orang-orang kampung telah memberi nasihat dan galakan supaya beliau menyambung pengajiannya yang tergendala itu. Mereka sanggup mengumpul dana bagi membantu beliau untuk meneruskan pengajiannya. Beliau menyedari yang dirinya belum menamatkan persekolahan sehingga lima thanawi ketika itu, sedangkan syarat utama penerimaan masuk kolej islam wajib dengan lima thanawi.

Beliau merasa dirinya seperti angan-angan mat jenin untuk merealisaikan hasrat masyarakat. Beliau merasa dirinya amat kerdil ketika itu. Semua orang yang mohon berbekalkan sijil lima thanawi sedangkan dirinya hanya sempat belajar dua thanawi. Beliau dipujuk untuk memohon menulis surat dalam bahasa Arab kepada pihak Kolej Islam Malaya ketika itu. Akhirnya beliau memberanikan diri menulis surat permohonan tersebut dalam bahasa Arab bertulisan tangan. Berasaskan nilaian terhadap kandungan surat tersebut beliau telah dipanggil untuk ditemuduga. Sesi temudgua dijalankan  dalam bahasa Arab sepenuhnya. Beliau dapat mejawab soalan temuduga yang dikemukakan dengan baik. Akhirnya beliau diterima pada hari itu juga, sedangkan murid-murid lain pulang ke kampunng masing-masing menunggu surat jawapan temuduga.

Semasa beliau mengikuti pengajian di Kolej Islam Malaya ini, cabaran besar kepadanya ialah sistem pengajian di Kolej Islam itu disampaikan dalam bahasa Arab sepenuhnya sedangkan kemampuan beliau hanya di tahap thanawi dua thanawi. Apa yang banyak membantunya untuk menyaingi pelajar lain dalam berbahasa Arab ialah sistem pengajian Madrasah ‘Alawiyyah yang juga menggunakan bahasa Arab sepenunhya semasa pengajian.

Menyedari dirinya tidak mempunyai kelulusan yang setanding dengan pelajar-pelajar lain yang menyambung belajar di kolej itu, beliau telah menggembelingkan tenaga dan usaha dengan belajar  bersungguh-sungguh. Masanya banyak dimanfaatkan di perpustakaan. Ini menjadikan beliau kurang aktiviti luar dan kesukanan seperti pelajar-pelajar lain.

Cerita menarik Tuan Guru Dato’ ketika di Kolej Islam Malaya

Semasa menuntut di Kolej ini, pada suatu hari dua orang pelawat Arab dari Palestin telah datang melawat Kolej Islam. Pelawat tersebut telah diundang untuk menyampaikan ucapan kepada guru-guru dan pelajar-pelajar kolej. Setelah selesai ceramah, beliau meminta Pengetua Kolej ketika itu Almarhum Dato’ Prof Abdul Raof Shalabi untuk mendengar ulasan dan komentar  dari seorang pelajar tentang Palestin. Pengetua menanyakan pelajar-pelajar siapa yang boleh memberi ucapan. Maka ketika itu Ustaz Mahyuddin yang mengenali Tuan Guru Dato’ telah mencadangkan beliau. Pengetua bersetuju dengan pilihan tersebut dan dia telah mengingatkan kembali ketika mana Tuan Guru Dato’ yang dapat menjawab soalan temuduga dengan cemerlang dan diterima pada hari itu juga belajar di kolej. Akhirnya beliau dipilih  untuk menyampaikan ucapan dalam bahasa Arab di majlis tersebut. Keupayaan dan keberanian beliau untuk berucap di khalayak di majlis itu mendapat sanjungan dari guru-guru dan rakan-rakan pelajar.

Cerita kedua ini berlaku pada tahun ketiga. Seorang pensyarah baru berbangsa Arab telah tiba berkhidmat di Kolej Islam iaitu Ustaz Abdul Wahab. Kebetulan bersempena dengan sambutan Maulid al-Rasul pihak Kolej telah menjemput beliau untuk meyampaikan ceramah. Pihak kolej telah melantik Ustaz Haron Din untuk menjadi penterjemah pada ketika itu.

Pada tahun ketiga di kolej, Guru beliau Ustaz Mahyudin Musa menugaskan  beliau menggantikannya  untuk menyampaikan ceramah di suatu tempat di Selangor iaitu di Sejangkang dalam satu majlis sambutan Isra’ Mikraj.

Semenjak dari itu, beliau sentiasa menerima undangan berceramah. Yang meneronokkannya setiap kali ceramah beliau akan mendapat wang saguhati RM50.00. Satu jumlah bayaran yang cukup tinggi di masa itu.

Pengajian di Kolej ketika itu disampaikan secara tutorial dalam bahasa Arab sepenuhnya. Pada petangnya, beliau telah diminta oleh rakan-rakannya untuk mengajar mata pelajaran yang sukar iaitu Mantiq dan Falsafah. Beliau bertindak sebagai tutor kepada mereka.

Di Kolej Islam Malaya atau namanya ketika itu al-Kuliah al-Islamiah, Kelang, Selangor, beliau memperoleh Sijil Tertinggi Kolej dengan cermerlang.

Di Peringkat Pengajian Tinggi

Minat Tuan Guru Dato’ terhadap ilmu pengetahuan tidak terhenti di peringkat pengajian tinggi sahaja. Dengan kecekalan dan kesungguhan dalam pengajian, beliau telah memenangi hadiah Biasiswa Persekutuan untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat “Master Degree”. Setelah tamat pengajian di Kolej Islam Malaya, beliau menyambung pengajian ke Universiti Al-Azhar, Kaherah, Mesir (1966-1968) dengan biasiswa tersebut. Semasa di Mesir, beliau telah mendaftar untuk belajar dua degree sekaligus iaitu Master di Universiti Al-Azhar, Kaherah dan Diploma Pendidikan di Universiti ’Ain Shams, Kaherah. Keadaan ini menyebabkan beliau tidak ada ruang untuk mengikuti aktiviti luar dengan pelajar-pelajar Malaysia yang lain ketika itu. Beliau terpaksa mengerah tenaga dan mental untuk belajar pagi dan petang. Masanya banyak dihabiskan dibilik perpustakaan untuk mendapatkan rujukan serta membuat kajian.

Semasa di Kaherah, beliau memilih untuk tidak tinggal bersama pelajar-pelajar Malaysia di asrama Rumah Melayu  kerana budaya pelajar Malaysia di Rumah Melayu hanya bergaul sesama mereka dan bercakap bahasa ibunda. Keadaan sedemikian tidak banyak membantu pelajar melayu mempraktik bercakap bahasa Arab. Beliau memilih untuk menyewa di luar bersama-sama dengan pelajar-pelajar Mesir. Ini memberi lebih banyak peluang baginya untuk berkomunikasi dalam bahasa Arab dengan penutur aslinya. Dua orang sahabat karibnya yang tinggal bersamanya di Kaherah ialah Lutfi Ali Omar dan Mahmud al-Kafif seorang yang buta. Banyak masa beliau belajar bersama-sama dengan kedua-dua rakannya ini. Dan mereka juga banyak membantu beliau untuk menyiapkan tugasan pelajaran sehingga berjaya. Peluang ini digunakan sepenuhnya oleh beliau untuk menggilap bahasa Arabnya dari aspek percakapan, penulisan dan juga qaedah bahasa arab.

Tuan Guru Dato’ tidak pernah lokek dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Ini kerana, ilmu merupakan amanah Allah S.W.T. dan sepatutnya disebarkan kepada orang lain. Kesibukan beliau menelaah pelajaran tidak dijadikan penghalang untuk beliau berkongsi dan mencurahkan ilmu dengan pelajar-pelajar lain. Beliau diamanahkan mengajar pelajar-pelajar Melayu di Mesir terutama kuliah kepada pelajar-pelajar wanita yang kebanyakannya lemah dalam pelajaran dan ramai yang terkandas pada ketika itu. Kelas-kelas ini dianjurkan oleh pelajar Melayu di Mesir. Pengamalan sebegini masih diteruskan sehingga ke hari ini bagi pelajar-pelajar Malaysia di Mesir. Antara matapelajaran yang diajar oleh beliau ialah Bahasa Arab, Usul Fiqh, Qawaed Fiqhiyyah dan lain-lain.

Semasa di Mesir, beliau telah membuat dua degree; satu MA (Ijazah Sarjana) Syariah di Universiti al Azhar dan Diploma Pendidikan di ‘Ain Shams, Universiti Cairo. Akhirnya dalam masa tidak sampai dua tahun beliau telah berjaya memperoleh kedua-dua degree tersebut serentak dengan cemerlang.

Kehidupan Sebagai Murabbi

Setelah menamatkan pengajian di luar negeri, beliau kembali semula ke tanah air sekitar tahun 1968 dengan memperolehi Ijazah Sarjana Syariah dari Universiti Al-Azhar dan juga Diploma Pendidikan Universiti A’in Shams di Kaherah. Dengan ilmu yang diperolehi dari luar negeri, masyarakat meletakkan harapan tinggi agar dapat mengambil manfaatnya. Untuk tidak menghampakan harapan masyarakat, beliau telah berkhidmat sebagai guru agama di Sekolah Abdullah Munsyi, Penang. Beliau ditugaskan sebagai guru disiplin.

Bermula dari saat inilah, beliau mula aktif menyampaikan dakwah kepada umum sebagai memenuhi permintaan masyarakat. Beliau sentiasa sibuk dengan aktiviti dakwah melalui kelas-kelas pengajian agama dan tazkirah di masjid-masjid serta jemputan ke rumah-rumah perseorangan. Selain pada itu, warga guru sekolah juga dianjurkan kelas pengajian khas bersama beliau.

Pada waktu yang sama beliau juga telah bekerja sebagai pensyarah sambilan untuk kursus-kursus pendidikan guru agama seluruh Malaysia yang dianjurkan oleh Kementerian Pelajaran di Maktab Perguruan Teknik, Pulau Pinang. Beliau mengajar matapelajaran art of teaching dan child development. Kebanyakan guru-guru agama ketika itu tidak memiliki ilmu pedagogi. Berbekalkan ilmu dan pengalaman yang diperolehi dari Kolej Islam Malaya dan Universiti ‘Ain Syam, Mesir dalam bidang pendidikan, ia dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh para guru pada ketika itu.

Rentetan dari itu, akhirnya beliau ditawarkan menjadi pensyarah di Fakulti Islam, Universiti Kebangsaan Malaya (nama sekarang Universiti Kebangsaan Malaysia UKM). Dengan sifat rendah diri, beliau enggan menerima tawaran tersebut dengan alasan ingin memberi peluang kepada mereka yang lebih senior dan lebih layak untuk memegangnya. Beliau merasakan terlalu awal baginya untuk memegang amanah sebagai seorang pensyarah di sebuah universiti. Dekan Fakulti Islam ketika itu telah datang sendiri ke rumahnya memujuk beliau untuk menerima jawatan tersebut. Akhirnya beliau bersetuju dan menerimanya dengan hati yang terbuka.

Kecintaan Tuan Guru Dato’ terhadap ilmu telah mendorong beliau menyambung kembali pengajiannya. Ketika itu, beliau masih berkhidmat di UKM. Maka pada tahun 1972, beliau sekali lagi berlepas ke Mesir untuk menyambung pengajiannya dalam bidang Doktor Falsafah. Pada tahun 1973, beliau telah berjaya dengan cemerlang dalam bidang Syariah dan memperolehi Ph.D daripada Universiti Darul Ulum, Kaherah.

Sekembalinya ke tanah air,  beliau berkhidmat sebagai pensyarah di Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Setahun kemudian beliau dilantik sebagai timbalan dekan, empat tahun kemudian dianugerahkan profesor madya dan tiga tahun kemudian dilantik sebagai profesor penuh.

Hasil Sumbangan Beliau Dari Segi Penulisan.

Ketekunan dan kesungguhan beliau dalam penyebaran ilmu pengetahuan sepanjang penglibatan beliau dalam dunia akademik dapat dibuktikan dengan penghasilan pelbagai karya ilmiah seperti buku-buku, kajian ilmiah dan kertas kerja. Antaranya;

PENERBITAN BUKU

A. Buku Terbitan dalam Bahasa Arab

(Dissolution of Marriage and Related Problem: A Comparative Study of Schools of Law) I Watan Press, Kuala Lumpur. 1983.

(The Separation of Spouse Based on Legal Prohibition by Law and Court – Watan Press 1984.

( Some Family Cases : Maintenance, Breach of Marriage and Polygamy an Islamic Solution ) – Watan Press, Kuala Lumpur, 1985.

(Spread of Islamic Mission in Malaysia) – Watan Press, Kuala Lumpur, 1985.

B. Buku Terbitan dalam Bahasa Malaysia

1. Buku Teks untuk sekolah menengah – Pengetaahuan Agama Islam sebagai Ketua Editor – Obor Islam I, II, III, IV dan V.

2. Rawatan Pesakit Menurut al Quran dan as Sunnah. Percetakan Watan, terbitan bersama rakan. 1990

3. Buku tajuk “ Jawapan Kepada Hadith Satu Penilaian Semula – terbitan Dewan Pustaka Fajar 1988 Ketua Pengarang.

4. Masalah Pendidian Islam di Malaysia (bersama Dr Sabri Salamon) 1988.

5.Pengenalan Islam : Kemusykilan dan Penjelasan (bersama Ishak Din) 1989.

6. Rawatan Gangguan Makhluk Halus – Percetakan Watan 1989.

7. Taklik Talak Antara Hukum Fiqh dan Hukum Kanun – Watan 1989

8. Soal Jawab Agama – Fiqh Harian (bersama Ishak Din – Percetakan Akademi Art Printing Services Sdn Bhd 1992.

9. Aqidah Tauhid (bersama Ishak Din) 1995.

10. Hudud dalam Perundangan Islam – Pakar Print 1978.

11. Manusia dan Islam – Edisi Pertama (Dewan Bahasa dan Pustaka, KL 1991) Ketua Editor

12. Manusia dan Islam – Edisi Kedua (Dewan Bahasa dan Pustaka, KL 1992) Ketua Editor

13. Manusia dan Islam – Edisi Ketiga (Dewan Bahasa dan Pustaka, KL 1992) Ketua Editor

13. Tasawwur Islam – Percetakan  Graphico Kajang 1404H.

14. Melihat Anak Bulan di Malaysia : Maslah dan Kemungkinan

15. Kewajipan Menegak Negara Islam –Indera Press.

16. Suami Isteri dan Rumahtangga Menurut Islam – Maju Press KL 1979.

17. Penyelenggaraan Jenazah – Unit Bimbingan Agama UPM 1981.

18. Methodologi Zikr – Watan 1988.

19. Pengurusan Jenazah – Percetakan Zizi Kajang 1989.

20. Hudud dalam Perundangan Islam – Dany Press 1993.

21. Muhammad Rasulullah : Anugerah Kejayaan – Bahagian Hal Ehwal Islam JPM 1993.

22. Ulama’ Bukan Cap Getah – Percetakan Watan 1993.

23. Islam : Keadilan Membebaskan Manusia 2007 (PTS Millenia)

24. Islam : Jihad Sebagai Survival Insan 2001 (PTS Millenia).

25. Islam : Ibadah Pembina Tamadun Manusia 2007 (PTS Millenia)

26. Islam :  Ada Apa Dengan Islam 2007 (PTS Millenia).

27. Islam : Agama, Bisnes dan Pengurusan 2007 (PTS Millenia).

28. Islam : Panduan Komprehensif Keluarga Bahagia 2007 (PTS Millenia).

29. Islam : Rujukan Afektif Akhlak Mulia 2007 (PTS Millenia).

30. Ikhtiar Penyembuhan  Penyakit dengan Ayat-ayat dan Doa-doa Mustajab 2009 (Darussyifa’).

31. Fikh Harian 2009 (Edisi Kemaskini ) PTS Millenia.

32. Pengantar Pengubatan Islam – Jilid I  2011 (Darussyifa’).

33. Rawatan Penyakit Jasmani  1 – Jilid II    2011 (Darusyifa’).

34. Rawatan Penyakit Jasmani 2  – Jilid III   2011 (Darussyifa’).

35. Rawatan Penyakit Akibat Sihir – Jilid IV 2011 (Darusyifa’).

Kerjaya

1.    Pensyarah di Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (1975 – 1976)

2.   Timbalan Dekan, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia (1977-1985)

3.    Profesor di UKM sejak tahun 1986 hingga bersara

4.    Ahli Majlis Penasihat Syariah, CIMB

5.    Ahli Majlis Penasihat, Bank Negara Malaysia

6.    Majlis Penasihat Syariah, Suruhanjaya Sekuriti

7.    Ahli Majlis Fatwa Negeri Selangor

8.    Timbalan Pengerusi Majlis Penasihat Syariah, Bank Pembangunan

9.    Pengerusi Majlis Penasihat Syariah, RHB Bank.

10) Timbalan Pengerusi Majlis Penasihat Syariah, Public Bank Bhd

11) Ahli Majlis Fatwa Negeri Perlis

12) Ahli Majlis Penasihat Syariah, Muamalah Financial Consulting

Politik

1.    Ahli Jawatankuasa Kerja PAS Pusat (1975-1983)

2.    Ketua Penerangan PAS Pusat

3.    Ahli Majlis Syura Ulamak PAS

4.    Timbalan Mursyidul Am PAS

sumber : http://darussyifabbst.blogspot.com

Rahsia Wuduk & KekuatanTangan

Klik di sini untuk membaca Artikel (pdf fomat) : Rahsia KekuatanTangan

Artikel ini diambil dari laman – http://nurmuhammad.com

Sekadar perkongsian ilmu/maklumat. Artikel yang ditulis oleh Sheikh Hisham Al-Kabbani Al Haqqani (Mursyid Tarikat Naqshbandi).

p/s : Tidak ada kena mengena dengan amalan di Darussyifa.

Pelancaran Buku Siri Pengajian Pengubatan Islam

Pelancaran Buku Siri Pengajian Pengubatan Islam pada Isnin,

25-April-2011 Jam 6:30 Ptg.

 

 

Buku teks yang pertama digunakan oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din untuk Kuliah Pengubatan Islam di Daussyifa’ diterbitkan pada tahun 1987. Buku tersebut berjudul “Sebahagian Daripada Rawatan Pesakit Menurut Al-Quran Dan As-Sunah”. Buku ini ditulis bersama dengan Dr. Amran Kasimin. Buku ini diterbitkan dan dicetak oleh Percetakan Watan Sdn. Bhd..

Sepuluh tahun kemudian iaitu pada tahun 1997, Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din bersama-sama dengan Dr. Amran Kasimin telah menerbitkan buku teks yang baru. Buku ini diterbitkan sebanyak dua jilid yang berjudul “Doa & Rawatan Penyakit (I) dan Doa & Rawatan Penyakit (II)”. Buku ini juga diterbitkan dan dicetak oleh Percetakan Watan Sdn. Bhd.. Buku ini telah digunakan di Darussyifa’ sebagai teks kuliah pengubatan sejak tahun 1997 hingga 2009.

Pada 5-Julai-2008, Unit Penerbitan Darussyifa’ telah ditubuhkan secara rasminya. Tujuan utama penubuhannya ialah untuk membantu Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din menyusun buku-buku yang berkaitan dengan rawatan Islam. Ketika ditubuhkan Unit Penerbitan mempunyai 12 orang ahli, kemudian pada pertengahan tahun 2009 keahlian telah bertambah menjadi 30 orang.

Sejak Unit Penerbitan ditubuhkan kerja-kerja membantu Tuan Guru Dato’ Dr. Haron dalam menerbitkan buku karangan beliau dimulakan. Buku pertama yang telah berjaya diterbitkan sendiri oleh Darussyifa’ ialah buku yang berjudul “Menjawab Persoalan Makhluk Halus – Kaitannya Dengan Penyakit Dan Pengubatan”. Kemudian tumpuan diberikan dalam menerbitkan buku teks baru untuk digunakan dalam kuliah pengubatan Islam di Darussyifa’. Buku teks baru ini dinamakan “Siri Pengajian Pengubatan Islam”. Buku ini dibahagikan kepada 5 jilid seperti berikut;

  1. Jilid 1: Pengantar Pengubatan Islam
  2. Jilid 2: Rawatan Penyakit Jasmani (I)
  3. Jilid 3: Rawatan Penyakit Jasmani (II)
  4. Jilid 4: Rawatan Penyakit Rohani
  5. Jilid 5: Rawatan Penyakit Akibat Sihir

Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din berhasrat agar buku teks baru ini boleh digunakan oleh pelajar Darussyifa’ Kumpulan 22 (Sesi 2009/2010). Memandangkan masa yang agak suntuk, pihak Unit Penerbitan hanya dapat menyiapkan Edisi Rintis sahaja untuk tujuan kuliah pengubatan kumpulan 22. Edisi Rintis yang diterbitkan ini tidak disemak dengan teliti pada perkataan, ejaan dan tanda-tanda baris pada hadith dan doa. Justeru itu Edisi Rintis ini mungkin banyak kesilapan ejaan dan tidak boleh diedarkan kepada umum. Edisi Rintis hanya diterbitkan untuk tujuan kuliah pengubatan dan perlu bimbingan daripada guru yang mengajar.

Edisi Rintis untuk Jilid-1 hingga Jilid-5 diterbitkan berperingkat-peringkat dan siap dicetak seperti berikut;

  1. Jilid 1 Edisi Rintis: Siap pada 8-Jan-2010
  2. Jilid 2 Edisi Rintis: Siap pada 7-Feb-2010
  3. Jilid 3 Edisi Rintis: Siap pada 5-Jun-2010
  4. Jilid 4 Edisi Rintis: Siap pada 15-Okt-2010
  5. Jilid 5 Edisi Rintis: Siap pada 17-Dis-2010

Setelah kelima-lima jilid edisi rintis diterbitkan, buku ini telah disemak dengan teliti dan disusun semula. Banyak pembaharuan yang telah dibuat termasuk ditukar gambar kulitnya. Buku yang telah disemak semula ini boleh dijual untuk pasaran umum. Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din sangat berpuas hati dengan buku ini dan insya-Allah akan dilancarkan pada hari Isnin 25-April-2011 jam 6:30 petang di Darussyifa’ Bandar Baru Bangi.

Buku ini boleh dibeli setelah dilancarkan pada 25-April-2011. Harga senaskah buku ini ialah RM20.00, bagaimanapun harga yang dijual di Koperasi Darussyifa’ Bandar Baru Bangi ialah RM18.00 senaskah atau RM90 untuk kelima-lima jilid.

 Jazakumullah

 Mohd Sopian Omar

PERSATUAN KEBAJIKAN DAN PENGUBATAN ISLAM MALAYSIA

( DARUSSYIFA )

ASAS PENGUBATAN DARUSSYIFA’


Perkembangan ilmu pengetahuan akan terus maju menurut perkembangan daya fikir manusia.  Di Malaysia, amalan merawat pesakit dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran, hadis, contoh sunnah Rasulullah, doa-doa yang digunakan oleh para anbiya’ adalah merupakan satu bidang yang masih agak baru. Usaha untuk mengatur segala bentuk rawatan pesakit melalui cara ini dalam satu kaedah yang jelas, teratur dan dapat dimanfaatkan boleh dikatakan amat berkurangan biar pun memang tidak dapat dinafikan bahawa terdapat ramai para pengamal perubatan Melayu tradisional yang menyumbangkan tenaga mereka dengan menggunakan kaedah ini.

Perlu dijelaskan bahawa sesungguhnya Darussyifa’ hanya menggunakan dengan cara yang teratur dan tersusun ayat-ayat al-Quran, amalan sunnah Rasulullah dan kaedah-kaedah lain yang selaras dengan syarak dalam tujuan mencari ikhtiar untuk merawat pesakit sama ada sakit fizikal atau spiritual.

Rawatan yang diamalkan oleh Darussyifa’ ini tidak boleh dimasukkan dalam kategori perubatan Melayu tradisional kerana rangkaian al-Quran yang dibaca itu jelas ayat-ayatnya, hadis-hadis dan sunnah Rasulullah itu nyata sumbernya manakala doa-doa yang dipohon juga jelas maksud dan susunan katanya.  Memang terdapat beberapa rangkaian kata Melayu yang digunakan dalam kaedah ini, tetapi penggunaan rangkaian kata yang dapat difahami maknanya serta tidak mengandungi ungkapan kata yang menyalahi hukum yang diharamkan Allah di samping tidak mengandungi kata-kata yang membawa syirik. Semua yang diamalkan ini adalan tidak bersalahan dengan ajaran Islam.

Pada hakikatnya, usaha membongkar kandungan al-Quran dan sunnah Rasulullah untuk tujuan rawatan penyakit, adalah masih di peringkat awal. la memerlukan keikhlasan, minat, pengamatan yang serius serta ketabahan yang berterusan.  Kejayaan usaha seumpama ini adalah bergantung kepada usaha-usaha yang dijelaskan diatas.

Pendedahan kandungan al-Quran, contoh-contoh sunnah Rasulullah dan doa-doa yang dijelaskan yang berkaitan dengan sumber wahyu dan sejarah Islam boleh memberi satu kesedaran yang agong kepada umat Islam untuk mengkagumi dan menghargai betapa besamya peranan Kitab Allah yang selama ini menjadi panduan dalam kehidupan seseorang.  Kesedaran ini boleh menjadikan seseorang itu menyedari keesaan Allah.  Semuanya ini adalah di antara jalan utama dalam tujuan memperkuatkan iman seseorang terhadap Allah s.w.t.

Pengubatan dengan menggunakan ayat-ayat seperti yang dijelaskan di atas bukanlah merupakan satu amalan baru di kalangan umat Islam biarpun ramai orang yang masih meragui kesahihannya.  Keraguan itu timbul ialah kerana kurangnya pemahaman terhadap sejarah ilmu perubatan dan al-Quran sendiri.  Sebagai contoh, al-Quran mengulangi beberapa kali ungkapan yang membawa makna kesembuhan penyakit. Antaranya (Surah al-Isra':82).

Mahfumnya: Dan Kami turunkan di atas (isi) al-Quran, sesuatu yang boleh menyembuhkan dan rahmat untuk orang-orang yang beriman.

Di dalam al-Quran terdapat enam ayat yang menyentuh penggunaan perkataan yang membawa makna kesembuhan.  Ayat-ayat itu dikenali sebagai ” Ayat Ash-Syifa’ “. (Sila rujuk al-Quran, At-Taubah:14, Yunus:57, Al-Nahl:69, Al-Israa':82, Asy-Syu’araa':80 dan Fussilat:44)

 

Sehubungan dengan ini pernah berlaku suatu kisah, di mana seorang Sahabat Nabi mengalami sejenis penyakit yang sudah puas diubati dengan berbagai cara perubatan, tetapi tidak juga sembuh.  Pada suatu hari pesakit itu telah diziarahi oleh seorang temannya.  Pesakit tersebut mengadu halnya yang telah puas berikhtiar tetapi masih belum disembuhkan Allah.  Teman tersebut bertanya sama ada dia telah membaca ” Ayat Ash-Syifa’ ” . Pesakit itu mengatakan belum, lalu teman tadi pun membaca ” Ayat Ash-Syifa’ ” yang akhirnya dengan izin Allah s.w.t. ia pun sembuh.

Ulama-ulama terdahulu telah banyak membicarakan tentang rawatan secara ini dan mengumpulkannya dalam beberapa buah buku yang terkenal antaranya: At-Tibbu ‘n-Nabawi, At-Tibb wa ‘r-Rahmah, Zadu ‘l Ma’ad fi Hadyi Khairi ‘l-‘Ibad dan lain-lain lagi.

Tidak dapat dinafikan bahawa perubatan Alupathy (perubatan moden seperti di hospital) buat masa kini merupakan suatu pilihan utama manusia moden untuk ikhtiar menyembuhkan penyakit. Hospital-hospital dan klinik-klinik yang dilengkapkan dengan segala kemudahan dan kepakaran menjadikan tempat-tempat ini tumpuan utama.  Akan tetapi suatu hal yang amat nyata bahawa tidak semua penyakit dapat disembuhkan dengan cara tersebut.  Masih banyak penyakit yang masih belum dapat ditemui ubatnya oleh pakar-pakar perubatan moden.

Apabila sesuatu penyakit tidak dapat disembuhkan dengan cara moden, pesakit akan berusaha mencari jalan lain untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.  Oleh itu peluang perlu disediakan agar pesakit-pesakit itu tidak putus asa dalam usaha mencari kesembuhan.

Kaedah pengubatan yang diusahakan di Darussyifa’ ini tidak sekali-kali bermaksud untuk mengambil alih tugas yang sedang dilaksanakan di hospital-hospital atau di klinik-klinik. la adalah merupakan satu rawatan alternatif untuk meneruskan ikhtiar setelah pesakit-pesakit berusaha melalui cara perubatan tersebut, tetapi belum lagi disembuhkan oleh Allah s.w.t.

Sekiranya sesuatu penyakit terjadi, kita memang menasihati pesakit-pesakit supaya mengutamakan rawatan biasa, iaitu di hospital-hospital atau di klinik-klinik.  Setelah rawatan itu diusahakan tetapi tidak juga berjaya, maka barulah pengubatan cara ini perlu dikhtiarkan.

Apa yang diusahakan di Darussyifa’ ini adalah sebahagian kecil dari ilmu yang sangat luas yang telah lama diamalkan oleh ulama-ulama Islam terdahulu.

Hanya Allah s.w.t. sahaja yang maha sempurna lagi maha benar manakala yang salah dan silap itu adalah dari insan yang bersifat lemah.

Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafan yang tidak disengajakan.  Kepada Allah kita memohon rahmat dan berkat semoga Allah sentiasa mengabulkan usaha kita semua dan menjadikan amalan kita yang tidak seberapa ini sebagai amalan yang soleh.

Sekian.

Wassalam.

Salam hormat dari saya,

Dato’ Dr. Haron Din

PESANAN TUAN GURU

Pra Syarat Sebagai Perawat


(Pesanan ini disampaikan oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din pada 7-March-2005)

1. Hendaklah memiliki 6 sifat seperti yang disebut dalam Syair Imam Shafie iaitu;

i.
Kecerdikan – Boleh memahami ilmu yang dipelajari, boleh menghafal doa-doa dan bukanlah seorang yang benak.
ii. Sensitiviti kepada Ilmu – Suka dan berminat mempelajari ilmu dan boleh memelihara (menyimpan) ilmu dan menjaga amanah ilmu dengan baik.
iii. Mempunyai Pendapatan – Mempunyai wang, harta dan bukan orang yang miskin.
iv. Mempunyai kesungguhan – bersungguh-sunguh dan berterusan dalam belajar ilmu pengubatan bukan sambil lewa sahaja.
v. Rakan seperguruan adalah saudara kita – Jangan ada cemburu-mencemburui, benci membenci sebaliknya tanamkanlah sifat hormat-menghormati dan kasih sayang.
vi. Memerlukan masa – iaitu hendaklah sentiasa bersabar dalam menuntut ilmu dan berubat kerana masa penantian yang panjang.

2. Hendaklah memberhentikan segala bentuk amalan pengubatan yang bercanggah dengan syariat Islam seperti penggunaaan tangkal (walaupun tangkal itu menggunakan ayat-ayat al-Quran), ilmu pengasih, ilmu penunduk dan seumpamanya.

3. Jangan melibatkan diri dengan Ilmu Tariqat atau kebatinan yang ada keraguan terhadapnya seperti Ahmadiah, Martabat-7, Qadiani dan seumpamanya, kalau dah sertai hendaklah ditinggalkan dengan segera.

4. Hendaklan meletakkan diri kita mampu dan boleh untuk berhadapan dengan segala bentuk ujian dan cabaran.

Syarat-syarat Utama Menjadi Perawat yang Baik

(Pesanan ini disampaikan oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din pada 7-March-2005)

1. Iltizam dengan Ilmu Pengubatan yang dipelajari – iaitu dengan sentiasa beramal dan berdamping dengannya setiap hari.

2. Mempraktikkan ilmu pengubatan yang telah dipelajari, selalu memberikan khidmat sukarela di klinik-klinik darussyifa’ dengan memberi rawatan kepada pesakit yang memerlukan bantuan.

3. Jangan campur adukkan ilmu yang diharuskan dengan ilmu yang dilarang iaitu jangan berbohong atau menyebutkan perkara-perkara yang tidak betul ketika merawat umpamanya mengatakan penyakit itu adalah disebabkan sihir atau perbuatan khianat oleh orang tertentu.

4. Ada keyakinan pada diri sendiri dan ikhlas bahawa ilmu yang disampaikan oleh guru adalah benar dan tidak meyalahi syarak.

5. Tidak boleh melangkah larangan atau etika yang telah ditetapkan oleh Darussyifa’ contohnya tidak boleh menetapkan bayaran kepada pesakit.

6. Hendaklah setiasa berdisiplin dalam semua hal seperti dalam pengubatan, kehidupan, beribadat, berzikir dan seumpamanya.

7. Bersungguh-sungguh dalam mengubat, berubat dan mencari kesembuhan.

10 Perinsip Asas Rawatan Islam

(Pesanan ini disampaikan oleh Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din pada 7-March-2005)

1. Ada penyakit , ada ubat.

2. Allah yang menjadikan penyakit , Dialah yang menjadikan ubatnya.

3. Kesembuhan bukan milik sesiapa, hanya milik Allah Ta’ala.

4. Manusia boleh berusaha, insya’ Allah kalau kena dengan ubatnya, Allah Ta’ala akan sembuhkan.

5. Al-Quran adalah panduan dan penghubung kepada kesembuhan penyakit.

6. Doa’-doa’ dan bacaan-bacaan adalah ikhtiar yang menjadi sebab untuk sembuh penyakit.

7. Rawatan dengan bacaan ataupun doa’, telah diijmakkan harus oleh para ulama’, malah digalakkan dengan          tiga syarat;

     i. Dengan membaca Al-Quran (dengan bacaan yang betul).
ii. Dengan bacaan-bacaan (selain daripada Al-Quran) yang diketahui maknanya.
iii. Dengan mengiktikadkan bahawa Allah ta’ala sahaja yang akan menyembuhkan.

8. Bahan ubat hendaklah daripada bahan yang halal dan harus (jangan menggunakan bahan-bahan yang haram seperti benda yang najis, tangkal dan seumpamanya)

9. Tidak boleh berputus asa dalam berikhtiar untuk mencari ubat dan kesembuhan.

10. Keyakinan kepada diri sendiri, ubat yang dibuat, doa yang dibaca dan ikhtiar yang betul, pasti Allah Ta’ala akan menyembuhkan.

Pengijazahan

Ini adalah intipati daripada ucapan Tuan Guru Dato’ Dr. Haron Din pada majlis Pengijazahan Pelajar Pengubatan Islam Darussyifa’ kumpulan ke-17.

1. Kita semua manusia biasa yang serba kekurangan, kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Tuan Guru mempunyai kekurangan begitu juga anak murid mempunyai kekurangan masing-masing. Justeru itu sebagai rakan seperguruan hendaklah saling tampung menampung kelemahan dan kekurangan rakan seperguruan yang lain. Kelemahan rakan jangan sekali-kali dibongkar atau dibesar-besarkan. Kalau rakan tersilap memberi ubat atau rawatan hendaklah kita cuba menutup kesilapan itu dihadapan pesakit dengan cara yang hikmah, jangan sampai mengaibkan rakan.

2. Berlajar ilmu pengubatan perlu mendapatkan ijazah dari guru kerana itu adalah warisan yang diterima oleh Tuan Guru daripada semua gurunya termasuk daripada ayahandanya sendiri. Sebagai mengambil contoh Imam As-Shafie juga ketika berguru dengan Imam Waqi’ mendapatkan ijazah daripada gurunya setelah tamat belajar. Ketika Imam As-Shafie belajar dengan Imam Malik, dia tidak dibenarkan memberi fatwa oleh Imam Malik sehingga ia diijazahkan. Justeru itu kesimpulannya tidak cukuplah belajar ilmu pengubatan hanya dengan membaca buku sahaja.